Home » , , , » Pemkab Wonogiri Siapkan Dana Rp 5 Miliar Untuk Bencana, 143 Kejadian Sepanjang 2025

Pemkab Wonogiri Siapkan Dana Rp 5 Miliar Untuk Bencana, 143 Kejadian Sepanjang 2025

📰 Pemkab Wonogiri Siapkan Dana Rp 5 Miliar untuk Penanganan Bencana, 143 Kejadian Tercatat Sepanjang 2025

Wonogiri, Wonogiri News — Pemerintah Kabupaten Wonogiri menegaskan kesiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir tahun. Pemkab telah mengalokasikan Rp 5 miliar melalui Biaya Tak Terduga (BTT) untuk menangani berbagai kejadian darurat yang kerap muncul di musim curah hujan tinggi.


Apakah Dana Rp 5 Miliar Cukup


Dana tersebut disiapkan untuk penanganan tanah longsor, banjir, angin kencang/puting beliung, hingga kebakaran lahan yang berpotensi meningkat intensitasnya selama periode cuaca ekstrem.

143 Kejadian Bencana, Kerugian Mencapai Rp 3,32 Miliar

Data resmi menunjukkan hingga November 2025, Wonogiri telah mengalami 143 kejadian bencana alam, dengan total kerugian mencapai Rp 3,32 miliar lebih. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, terutama akibat tingginya intensitas hujan dan perubahan pola angin yang memicu banjir serta longsor di beberapa kecamatan.

Beberapa kecamatan rawan longsor seperti Tirtomoyo, Bulukerto, Slogohimo, dan Purwantoro tercatat mengalami insiden berulang. Di wilayah kota, kebakaran pasar menjadi salah satu kejadian yang paling banyak menyerap anggaran BTT tahun ini.

Sebagian Dana Sudah Terserap, Pemkab Siapkan Opsi Tambahan

Sebagian dana BTT telah digunakan untuk penanganan kebakaran besar Pasar Kota Wonogiri. Dengan frekuensi kejadian yang terus bertambah, Bupati menegaskan bahwa apabila dana BTT tidak mencukupi, Pemkab siap membuka opsi pendanaan tambahan melalui mekanisme internal pemerintah daerah maupun dukungan provinsi.

Menurut pemerintah setempat, fleksibilitas anggaran adalah kunci agar penanganan bencana tidak tersendat, terutama pada hari-hari pertama setelah kejadian.

Kendala di Lapangan: Peralatan Evakuasi Belum Lengkap

Laporan dari BPBD menunjukkan bahwa meskipun kesiapsiagaan meningkat, Wonogiri belum sepenuhnya memiliki peralatan evakuasi modern yang memadai. Beberapa kebutuhan mendesak di antaranya:

  • Perahu karet kapasitas besar

  • Alat pemotong cepat (rescue cutter)

  • Kendaraan evakuasi off-road

  • Sistem drone pemantau daerah rawan

  • Alat komunikasi darurat

Tanpa peralatan yang lengkap, proses evakuasi sering mengandalkan metode manual atau bantuan relawan setempat, sehingga waktu penanganan menjadi lebih lama.

Destana: Kekuatan Relawan Desa yang Perlu Diperluas

Wonogiri memiliki 204 Desa Tangguh Bencana (Destana) dari total 294 desa/kelurahan. Artinya masih ada hampir 100 desa yang belum memiliki sistem relawan terstruktur. Padahal, peran relawan desa menjadi sangat penting pada masa awal bencana, terutama di wilayah perbukitan dan akses jalan sempit.

Pemerintah menargetkan pembentukan Destana di seluruh desa dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko korban jiwa.

Apakah Dana Rp 5 Miliar Cukup? Ini Analisisnya

Jika dilihat dari total kerugian Rp 3,32 miliar, angka Rp 5 miliar tampak cukup sebagai bantalan awal. Namun, analisis kebutuhan menunjukkan beberapa hal:

  1. Frekuensi kejadian meningkat.
    143 kejadian dalam 11 bulan menunjukkan daerah ini butuh sistem respons yang lebih kuat.

  2. Biaya pemulihan sering lebih besar dari biaya evakuasi.
    Longsor besar atau banjir memerlukan rekonstruksi yang tidak murah.

  3. Investasi alat evakuasi dapat menelan miliaran rupiah
    sehingga BTT bisa habis bahkan sebelum bencana puncak musim hujan.

  4. Perlu cadangan berlapis.
    Kabupaten harus menyiapkan rencana pendanaan tambahan agar tidak bergantung pada BTT semata.

Dengan kondisi tersebut, Rp 5 miliar dapat dikatakan mencukupi untuk penanganan awal, tetapi belum tentu memadai untuk penanganan jangka panjang atau kejadian besar berskala kabupaten.

Imbauan Kewaspadaan untuk Warga

Pemkab mengimbau warga untuk:

  • Meningkatkan kewaspadaan di daerah lereng tebing rawan longsor

  • Membersihkan saluran air untuk mencegah banjir lingkungan

  • Tidak membakar lahan atau sampah di area kering berangin

  • Segera melapor ke BPBD atau Damkar jika melihat potensi bencana

0 Comments:

Post a Comment

×