Home » , , , , » Jepara Menuju City Walk Mebel: Rencana Rp140 Miliar Ubah Jalan Soekarno-Hatta

Jepara Menuju City Walk Mebel: Rencana Rp140 Miliar Ubah Jalan Soekarno-Hatta

Jepara Menuju City Walk Mebel: Rencana Rp140 Miliar Ubah Jalan Soekarno-Hatta




Pemkab Jepara mengajukan anggaran Rp140 miliar untuk menata Jalan Soekarno-Hatta jadi city walk dan pusat mebel. Simak konsep, peluang ekonomi, dan tantangan penataan kawasan ini.

Jalan Soekarno-Hatta Akan Disulap Jadi City Walk

Pemerintah Kabupaten Jepara tengah menyiapkan rencana ambisius: menata Jalan Soekarno-Hatta di Kecamatan Tahunan menjadi kawasan city walk yang memadukan fungsi ruang publik, wisata, dan sentra mebel–UMKM.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemkab mengajukan anggaran sekitar Rp140 miliar kepada pemerintah pusat. Besarnya nilai investasi mencerminkan skala perubahan yang dirancang: bukan sekadar pelebaran trotoar, tetapi transformasi total wajah koridor utama kota.

Jepara selama ini dikenal sebagai kota ukir dengan industri mebel yang menyebar hingga ke desa. Namun, banyak produk mebel terbaiknya justru lebih dikenal di luar kota bahkan luar negeri, sementara wajah kota sendiri belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan identitas ini. Konsep city walk di Soekarno-Hatta diharapkan menjadi “etalase besar” Jepara.

Konsep City Walk Mebel dan Ruang Publik

Dari informasi perencanaan, ada beberapa elemen yang disorot:

  • Jalur pedestrian lebar yang nyaman untuk pejalan kaki.

  • Ruang display mebel dan kerajinan di sepanjang koridor, sehingga pengunjung dapat menikmati karya ukiran Jepara tanpa harus masuk ke banyak showroom kecil terpencar.

  • Penataan lampu, bangku taman, dan elemen estetis yang mengangkat nuansa seni ukir.

  • Kemungkinan penanaman pohon asem sebagai ikon, mengikuti tradisi peneduhan jalan utama di Jepara tempo dulu.

Dengan ini, warga dan wisatawan akan punya tempat baru untuk berjalan santai, berfoto, dan berinteraksi dengan produk lokal secara langsung.

Dampak bagi UMKM dan Industri Mebel Jepara

Jika terwujud dengan baik, city walk di Soekarno-Hatta berpotensi:

  • Meningkatkan visibilitas merek lokal: pengrajin kecil yang selama ini “bersembunyi” di kampung bisa ikut menikmati arus pengunjung di koridor utama.

  • Menguatkan daya tawar harga: kawasan yang tertata rapi dan berkelas akan mengangkat persepsi kualitas, sehingga produk Jepara tidak lagi dipandang sebagai barang murah yang bisa ditawar habis-habisan.

  • Membuka peluang usaha baru: mulai dari kafe, galeri, tempat workshop ukir bagi wisatawan, hingga event pameran rutin.

Bagi pelaku UMKM, tantangannya adalah bagaimana mempersiapkan diri: meningkatkan kualitas finishing, pelayanan, hingga kemampuan menceritakan produk kepada pengunjung.

Tantangan Penataan: Lalu Lintas, Relokasi, dan Keberlanjutan

Proyek besar tidak lepas dari tantangan. Beberapa hal yang hampir pasti muncul di lapangan:

  1. Pengaturan Lalu Lintas
    Jalan Soekarno-Hatta adalah salah satu jalur penting pergerakan kendaraan. Menjadikannya city walk perlu rekayasa lalu lintas yang matang agar tidak menimbulkan kemacetan di titik lain.

  2. Penataan Pedagang dan Bangunan Eksisting
    Pemkab harus berdialog serius dengan pemilik bangunan dan pelaku usaha yang sudah lama menempati koridor ini. Keberhasilan city walk bergantung pada keterlibatan pelaku lokal, bukan sekadar proyek fisik.

  3. Perawatan Jangka Panjang
    Banyak kota berhasil membangun kawasan cantik, tetapi kesulitan merawatnya. Kebersihan, keamanan, lampu, dan fasilitas umum harus dijaga agar city walk tidak menjadi “bagus hanya saat peresmian”.

Jepara Butuh Wajah Kota yang Setara dengan Namanya

Selama ini, nama Jepara harum di brosur ekspor mebel, tetapi tidak semua wisatawan melihat “kebesaran” itu ketika menginjakkan kaki di kota. Penataan Jalan Soekarno-Hatta sebagai city walk tematik mebel adalah peluang untuk menghubungkan brand global Jepara dengan pengalaman langsung di lapangan.

Jika disiapkan dengan partisipasi warga, pelaku industri, dan perencana kota yang peka terhadap sejarah, city walk ini bukan hanya proyek 140 miliar, melainkan investasi jangka panjang identitas kota.

0 Comments:

Post a Comment

×