BAZNAS Surakarta Bangun 40 Rumah dan 25 MCK, Dorong Peningkatan Kualitas Hidup Warga
Surakarta — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surakarta mencatat capaian besar sepanjang tahun 2025 melalui serangkaian program sosial berbasis dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari para muzaki. Sepanjang tahun berjalan, lembaga ini berhasil mendanai pembangunan dan rehab 40 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), 25 unit fasilitas MCK, serta renovasi dua masjid di wilayah Kota Solo. Total bantuan yang tersalurkan untuk tiga jenis program tersebut mencapai Rp871.083.000, seluruhnya bersumber dari dana ZIS yang dikelola BAZNAS Surakarta.
Program Perbaikan Hunian: Fokus pada Warga Paling Rentan
Ketua BAZNAS Kota Surakarta, MH Qoyim, menjelaskan bahwa rehabilitasi RTLH merupakan bagian dari layanan kemanusiaan yang difokuskan kepada warga berpenghasilan rendah. Ia menegaskan bahwa dana yang dipercayakan para muzaki dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas, sehingga bantuan yang disalurkan memberikan manfaat jangka panjang, bukan sekadar konsumsi sesaat.
Program RTLH tahun ini menyasar lima kecamatan dengan rincian:
-
Jebres: 25 unit
-
Banjarsari: 7 unit
-
Laweyan: 3 unit
-
Pasar Kliwon: 3 unit
-
Serengan: 2 unit
Pemilihan lokasi mengacu pada pemetaan kerentanan sosial dan penilaian kondisi fisik bangunan warga yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan.
Pembangunan 25 MCK: Upaya Memperbaiki Sanitasi Permukiman Padat
Selain perbaikan hunian, BAZNAS juga memprioritaskan pembangunan fasilitas sanitasi. Dari 25 unit MCK yang berhasil dibangun, sebarannya adalah:
-
Jebres: 6 unit
-
Laweyan: 8 unit
-
Serengan: 1 unit
-
Pasar Kliwon: 2 unit
-
Banjarsari: 8 unit
Fasilitas MCK ditempatkan di permukiman padat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses sanitasi layak. Dengan hadirnya fasilitas baru, masyarakat diharapkan memiliki lingkungan yang lebih bersih dan risiko penularan penyakit berbasis lingkungan dapat ditekan.
Dua Masjid Direhabilitasi Setelah Terkena Dampak Bencana
BAZNAS Surakarta juga menyalurkan bantuan perbaikan untuk dua masjid yang mengalami kerusakan akibat terpaan angin puting beliung beberapa waktu lalu. Masjid yang berada di kawasan Mojosongo dan Gandekan, Kecamatan Jebres, menjalani renovasi mulai dari perbaikan struktur utama, pembenahan atap, hingga penyempurnaan fasilitas penunjang kenyamanan jamaah. Langkah ini dilakukan agar rumah ibadah tersebut dapat kembali menjalankan fungsi spiritual sekaligus sosial bagi warga sekitar.
Apresiasi Wali Kota: Zakat Terbukti Berdampak Langsung pada Warga Miskin
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, memberikan apresiasi atas peran BAZNAS dalam mendukung program pemerintah kota terkait penanganan RTLH dan sanitasi. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemkot dan lembaga zakat merupakan wujud nyata penyaluran ZIS yang tepat sasaran.
Menurut Wali Kota, perbaikan rumah dan penyediaan sanitasi yang layak sangat berpengaruh terhadap kesehatan, produktivitas, serta martabat warga. “Bantuan seperti ini menyentuh akar persoalan kemiskinan dan memberikan perubahan yang langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
RTLH: Definisi, Kriteria, dan Realitas di Lapangan
Berdasarkan regulasi nasional, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) adalah rumah yang tidak memenuhi standar keselamatan konstruksi, kelayakan ruang minimum, serta persyaratan kesehatan bagi penghuninya. Karakteristik RTLH umumnya meliputi:
-
struktur bangunan rapuh,
-
atap bocor,
-
minim pencahayaan dan ventilasi,
-
lantai lembap atau tanah,
-
hingga tidak adanya akses sanitasi yang memadai.
Karena itu, program RTLH BAZNAS bukan hanya memperbaiki kerusakan, tetapi juga memastikan rumah lebih kokoh, aman, memiliki sirkulasi udara yang cukup, dan terkoneksi dengan fasilitas sanitasi dasar.
Sanitasi Buruk dan Kaitannya dengan Penyakit Masyarakat
Berbagai riset kesehatan masyarakat menunjukkan hubungan erat antara sanitasi yang tidak layak dengan tingginya kasus:
-
diare,
-
ISPA,
-
kecacingan,
-
hingga masalah gizi kronis seperti stunting pada anak.
Di banyak wilayah urban Indonesia, keterbatasan sarana MCK dan air bersih masih menjadi persoalan serius. Dengan pembangunan MCK komunal yang layak dan mudah diakses, program BAZNAS Surakarta diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus mengurangi beban biaya kesehatan rumah tangga miskin.
Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan
Capaian tahun 2025 menegaskan bahwa zakat, jika direncanakan dan dikelola dengan baik, mampu menjadi instrumen pemberdayaan jangka panjang. Penerima manfaat tidak sekadar memperoleh bantuan sesaat, tetapi mendapatkan hunian yang lebih layak, lingkungan yang lebih sehat, dan peluang hidup yang lebih bermartabat.
Pemerintah Kota Surakarta berharap pola kolaborasi seperti ini dapat terus diperluas: menggandeng lembaga zakat lain, sektor swasta, dan komunitas sosial. Integrasi antara program perbaikan rumah, sanitasi, dan pemberdayaan ekonomi diproyeksikan dapat mengurangi kantong-kantong kemiskinan di Kota Solo secara berkelanjutan.
Penutup: Rumah Lebih Baik, Lingkungan Lebih Sehat, Hidup Lebih Bermartabat
Upaya BAZNAS Surakarta membangun 40 RTLH, 25 MCK, dan memperbaiki dua masjid tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi juga berpengaruh pada kualitas hidup warga. Program ini menjadi bukti bagaimana ZIS dapat bertransformasi menjadi perubahan sosial yang nyata—mendorong lingkungan lebih sehat, meningkatkan kesejahteraan, serta memperkuat sendi-sendi kemanusiaan di tingkat akar rumput.
%20Kota%20Surakarta.jpg)

0 Comments:
Post a Comment